USAI BERCERAI – 3 OLEH : DEWI FATIMAH Jika ada orang lain yang paling terluka karena perceraian ini, mungkin itulah Mama. Aku perlu mengatur strategi bagaimana cara menyampaikan kabar mengejutkan ini. Intinya, jangan sampai Mama marah besar atau yang paling buruk … jantungan. Meskipun selama ini Mama sehat-sehat saja, tapi mengingat punya riwayat hipertensi, aku jadi worry. Itulah kenapa, aku belum berniat melayangkan gugatan cerai melalui Pengadilan Agama. Menunggu waktu yang tepat. Entah kapan. Lagipula besok ada dinas luar hingga dua pekan ke depan. Ada yang harus disiapkan. Berkas-berkas penting dan tentu saja pakaian. Pandanganku terpaku pada sebuah koper di sudut kamar. Biasanya, Maysa yang menyiapkan seluruh keperluan dinas luar dengan cekatan. Sebelum bertindak, dia akan menanyakan baju apa saja yang dibutuhkan, jumlahnya berapa, warnanya apa, dan … semuanya diurutkan agar aku tidak perlu membongkar dan membuatnya berantakan. Lalu sekarang, aku harus melakukannya sendirian? Keadaan yang membuatku bertanya, apakah benar keputusan menceraikannya? Aku mengurut kening. Berharap hal-hal rancu yang mengganggu otak selama hampir 36 jam belakangan ini akan sirna. Dari luar terdengar suara Maysa menggumam. Melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan. Menarik perhatianku untuk mengintipnya dari kaca jendela. Bibirku melengkung tipis mendapati Maysa sedang asyik menyiram anggrek-anggreknya. Ya, dia hobi mengoleksi bunga yang satu itu. “Kenapa suka anggrek?” tanyaku saat pertama kali menemaninya ke toko bunga. Mata sipitnya agak membulat memandangi bunga-bunga anggrek yang berjajar rapi di atas rak. Setelah menyuguhkan senyum manis, Maysa berkata, “Dulu, Almarhumah Ibu suka anggrek.” Ibunya meninggal sejak dia masih SMP. Beruntungnya Maysa, dia punya papa yang kaya raya dan ibu tiri yang menyayanginya. Sehingga dia terurus dengan baik hingga dewasa. Berbeda dengan Ratu yang memang agak terlunta-lunta. “Cuma karena itu?” Aku melanjutkan. Dengan mata berkilat senang, Maysa kembali menjawab, “Ya. Apa-apa yang Ibu suka, aku juga akan suka. Dan bunga anggrek memang terlalu cantik untuk enggak disukai. Gimana ya, bentuk bunganya itu eksotis. Dia sebetulnya sederhana, tapi kesannya mewah dan elegan. Terus bunganya awet. Cara hidupnya juga unik. Kalau bunga-bunga yang lain hidup dengan media tanah, dia malah suka nempel di pohon-pohon. Tapi dia enggak jadi parasit. Istilahnya, numpang hidup tapi enggak merepotkan.” Numpang hidup tapi enggak merepotkan? Dulu terdengar biasa, tapi kini terasa berbeda. Senyumku mengembang seiring rasa hangat yang mengalir di wajah ini. * Tugas dinas luar yang akan dikerjakan oleh tim berkaitan dengan audit K3S–Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Obyek pemeriksaannya adalah sebuah perusahaan minyak milik Jepang yang beroperasi di Blok Kangean. Sebuah kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam pelaksanaannya, kami bekerjasama dengan Dirjen Pajak dan Migas. Tim yang bertugas kali ini terdiri dari enam orang. Satu orang pengendali teknis, satu orang ketua tim, dan empat lainnya–termasuk aku–adalah anggota tim. Tugas yang kata orang merupakan lahan basah. Entah maksudnya bagaimana, karena bagiku semua tugas itu sama. Harus dikerjakan dengan profesional. Surabaya menjadi kota tujuan pertama tim kami. Ada data yang dibutuhkan dari kantor yang mengurusi migas di Jawa Timur. Kepala kantornya menyambut kami dengan keramahan khas orang Jawa. Laki-laki dengan kisaran usia 50 tahun. Tahu bahwa kami berenam jarang ke Jawa Timur, beliau mengajak kami makan malam di rumah makan yang khusus menyediakan hidangan khas provinsi paling timur pulau Jawa ini. Salah satu menu andalannya adalah rawon. Rasa kuahnya manis, gurih, dan bila dicampur sambal dan jeruk nipis, semakin membuat semangat makan. Kebetulan, beliau mengajak anak dan istri. Dan yang cukup membuatku tercengang, istrinya bercadar. Seorang yang punya jabatan tapi tidak sungkan mengenalkan istrinya yang hanya kelihatan mata dan telapak tangan. Aku salut. Sungguh. Bahkan aku belum pernah mengenalkan Maysa ke teman-teman kantor karena khawatir dengan stigma negatif soal istri yang pakaiannya terlalu tertutup seperti itu. “Sudah punya anak berapa, Pak?” Pertanyaan lelaki itu ditujukan padaku. Mungkin karena aku yang terlihat paling muda di sini. Terus terang, aku agak gelagapan. Seakan mendapat ujian dadakan dan tidak ada persiapan apapun untuk mencegah apalagi menyiapkan jawaban. “Em … belum ada, Pak,” jawabku singkat. “Pak Reyhan ini baru menikah, Pak. Lima bulan atau enam bulan lalu, ya, Pak Rey?” Ketua Tim menimpali sembari menyikut lenganku main-main. “Pengantin lumayan baru, to?” jawab lelaki di hadapanku disusul tawa beberapa orang, termasuk si wanita bercadar. “Kerja apa istrinya?” tanya beliau lagi. Istri? Apa Maysa masih boleh kusebut istri? “Em … dia punya toko kue,” jawabku setelah menenangkan hati yang sedikit gelisah. Gelisah, karena aku tahu ada dusta terselip di antara ucapanku. “Wah, enak, ya? Kalau punya usaha sendiri bisa leluasa atur waktu untuk ngurusi keluarga. Kalau istri saya ini, dulu kerja kantoran, Pak. Begitu nikah, udah, saya suruh resign saja. Fokus ke keluarga, kata saya. Apalagi kerjaan saya kan, kebanyakan di luar, ya. Kasihan nanti kalau punya anak, ditinggal bapak-ibunya terus.” Aku tersenyum canggung. Wanita bercadar itu kemudian bangkit saat mendapati anaknya yang paling bungsu–kira-kira berusia enam tahun– menangis karena jatuh kesandung kursi. Cara menenangkan tangis anak laki-laki itu cukup menarik perhatianku. “Oh, Adik kesandung kursi, ya? Lain kali hati-hati, ya? Sabar …. Mana yang sakit?” Seketika, kelembutan itu mengingatkanku pada sosok Maysa. Aku menghela napas, berharap kesesakan ini pergi. [May, rumah aman?] Menjelang subuh, aku mengirim pesan untuk si wanita salihah. Sekedar basa-basi. Atau memang ada rindu yang menyusup dalam hati? Entahlah. [Iya. Alhamdulillah.] Hanya itu dan cukup membuat hati ngilu. Berharap mendapatkan jawaban panjang, tapi cuma sesingkat itu. Aku pun keluar kamar, pergi salat subuh di masjid dekat hotel. Heran? Aku juga. Sejak mengucapkan kata cerai, entah kenapa kenormalan hidupku mulai bergeser. Bahkan bangun subuh menjadi rutinitas baru. Usai menunaikan ibadah yang begitu syahdu, aku duduk termenung. Rupanya sedamai ini salat subuh berjamaah di masjid. Ya Allah, selama ini ke mana saja aku? Tak terasa air mata haru menitik di sudut netra. Ingin kukatakan pada Maysa bahwa pagi ini malaikat telah mencatat, Reyhan tidak bangun kesiangan! Ah, aku jadi senyum-senyum sendiri. Beberapa menit kemudian, kajian rutin di mulai. Hatiku bersorak entah kenapa. Yang jelas ada rasa bahagia yang sulit didefinisikan dengan kata-kata. Istri yang menyejukka mata. Tema yang diangkat pagi ini. Seketika mengingatkanku pada Maysa Al-Mahira. Sialnya, aku mengikuti kajian sambil terkantuk-kantuk. Mungkin karena tadi malam tidur larut karena terpaksa begadang memasukkan data-data...
The post USAI BERCERAI – 3 appeared first on MALLPROPERTI.COM : AHLI JUAL PROPERTY MALANG RAYA.
http://dlvr.it/RWkNvt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar