Jumat, 15 Mei 2020

USAI BERCERAI – 2

USAI BERCERAI – 2 OLEH : DEWI FATIMAH “Celana dalam, kaos hitam …. Di mana, sih?” Aku menggumam sendiri di kamar. Menghadap lemari yang terbuka. Pusing menatap tumpukan pakaian di dalamnya. Kostum hari ini batik. Warna gelap. Mudah dicari karena digantung, bukan dilipat. Tapi celana dalam dan kaos hitamnya …. Masalahnya aku tidak hafal di mana letak masing-masing. Aku pun menyemburkan napas kuat-kuat. Menit kemudian menggaruk rambut yang masih basah dengan kasar lantaran frustasi. Apa minta tolong Maysa saja? Biasanya dia yang menyiapkan pakaian kerja. Kamper jamuran! Gengsimu ditaruh mana, Reyhan?! Sadar status, woi! Oke, tenang. Tarik napas …, embuskan …. Cari satu persatu dan pelan-pelan. Aku menatap setiap baris tumpukan pakaian dengan seteliti mungkin. “Nah! Ketemu, kan?” Tersenyum lega, sebuah celana dalam sudah berhasil kukeluarkan. “Terus … kaos hitam ….” Sepertinya perlu diintip satu persatu tumpukan kaos ini! “Nah, kan!” Aku berseru lirih. Keselip rupanya. Namun ketika ditarik, kaos-kaos yang lain malah berguguran. Rasanya seluruh kosakata umpatan hendak keluar! Istigfar, Reyhan …. Istigfar …. Sabar. Dengan perasaan setengah enggan, kupunguti kaos-kaos yang berceceran di lantai. Ini kalau Maysa tahu, dia bisa mengomel. “Subhanallah suamiku, luar biasa sekali! Menambah ladang amal istri!” Biasanya dia akan berujar begitu sambil mengelus dada. Lalu berikutnya dia tidak akan membiarkan suaminya ini, eh, maksudku mantannya ini untuk mengambil baju sendiri. Ah, Maysa …. Aku menggeleng cepat. Mengusir pikiran yang mulai rancu. Baiklah …. Hampir 30 menit habis hanya untuk memilih outfit hari ini. Dan begitu menyadari jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka 7.30 WIB, diriku bergegas keluar. Batas absensi tinggal setengah jam lagi! Padahal mobil belum dipanasi, jalanan juga tidak ada jaminan lancar. Mati aku! Tunjangan terancam kena potongan! Ketika hendak mengenakan sepatu, baru sadar kalau belum mengambil kaos kaki. Aku pun berlari ke kamar. Kembali membongkar lemari. Berantakan? Bodo amat! Lega. Sepatu sudah terpasang. Kulangkahkan kaki menuju garasi. Lalu kudapati Maysa sedang memegang sapu di teras, membersihkan pecahan pot anggrek. Biasalah, ulah kucing berantem. Tapi … bukannya dia harus ke toko kue? Ya, Maysa adalah owner sebuah toko kue. Biasanya sebelum jam tujuh pagi sudah berangkat. Ini? Kenapa masih santai? Tanya, jangan. Tanya, jangan. Tanya …. Dia menoleh. Menatapku dengan kedua alis bertaut. Aku gelagapan sendiri, ketahuan mencuri pandang. “Eng … enggak ke toko, May?” tanyaku gugup. Maysa kembali menggerakkan sapunya–yang sempat terhenti karena menoleh padaku, mengumpulkan tanah dan kepingan pot yang berserakan. “Insyaallah jam sembilan.” Ia tidak memandangku lagi. “Oh, jam bukanya berubah, ya?” tanyaku lagi sembari memasukkan tas kerja ke dalam mobil. “Enggak. Kan, ini hari Sabtu. Bukanya siang. Masa lupa?” Maysa mengucapkan masa-lupa dengan sedikit ngedumel. Sabtu? Aku menatap punggung Maysa tanpa kedip. Lalu pelan-pelan kulirik arloji yang melilit di pergelangan tangan kiri. SAT. Tiga huruf yang tertera di layar benda itu. Artinya … SATURDAY alias Sabtu. Kucing kecemplung got! Jadi hari ini Sabtu? Aku berpikir lagi, mengingat-ingat. Iya ya, kemarin aku menemui Ratu setelah salat Jumat. Ya salam …. Sejak kapan Reyhan jadi pikun begini? Usia juga baru 30 tahun. Karena tak ingin terlihan oon, aku tetap menampakkan wajah stay cool. “May, Abang ada acara. Pergi dulu,” pamitku sebelum masuk mobil. Sebenarnya tidak penting, cuma jaga-jaga karena Maysa terlihat heran mendapatiku rapi di akhir pekan. Padahal biasanya tidur sampai menjelang zuhur. Dia juga tidak boleh tahu kalau aku telah melewati pagi yang luar biasa kacau, tapi ujung-ujungnya salah hari. “Ya.” Maysa menyahut datar sembari melirik sekilas. Kedua tangannya sibuk menata pot anggrek yang bergeser–karena ulah kucing. Nyeri. Entah kenapa sikap dingin Maysa membuat dada ini terasa sakit. Setelah menyemburkan napas kasar, aku duduk di kursi kemudi. Kunyalakan mobil dengan hati dongkol. Membiarkannya hidup, berharap mesinnya panas. Ya siapa tahu hangatnya nular ke Maysa. Biar cair sikap dinginnya. Ketika mobil sudah mundur perlahan, aku menepuk jidat. Bagaimana bisa keluar kalau pagar masih tertutup rapat? * Usai sarapan di sebuah resto cepat saji dekat komplek, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Entah akan pergi ke mana. Aku juga belum tahu. Paling tidak harus keluar dua sampai tiga jam agar Maysa tidak curiga. Eh, sejak kapan Maysa menjadi alasanku melakukan sesuatu? Aku menyentak napas dan menggeleng samar. Heran. Saat beberapa menit berhenti karena lampu merah, sikap dingin Maysa melintas di ingatan. Sikap yang mengingatkanku saat pertama kali kami bertemu. Waktu itu hari Minggu. Mama membawanya ke rumah setelah balik dari pengajian. Untuk dikenalkan padaku. Denganku, Maysa tidak banyak bicara. Kecuali memang benar-benar perlu. Cara menjawabnya pun datar. Sangat kontras jika dia berhadapan dengan Mama atau Papa. Dalam hati, aku tertawa sinis. Wanita model begitu mau jadi istriku? Parasnya biasa tanpa polesan make-up sedikit pun. Sungguh berbeda dengan Ratu dan beberapa mantan yang pernah singgah di hatiku, yang semuanya pintar dandan. Begitu membanggakan saat diajak jalan. Bagiku, pakaian Maysa juga terlalu tertutup. Kayak Mama. Kalau beliau sih, wajar. Sudah hampir kepala enam. Siapa juga yang bakalan komentar? Lah Maysa? Duh, artis hijrah saja pakaiannya enak dipandang. Dia? Benar-benar polosan. Tanpa pernak-pernik atau hiasan. “Aku enggak cinta sama kamu. Gimana kita mau menikah kalau di hati masing-masing tidak ada rasa?” Akhirnya pertanyaan itu mencuat dari mulutku. Sesungging senyuman terbit dari bibirnya yang memang berwarna merah alami. “Setahu saya, sebuah pernikahan tidak harus diawali dengan cinta. Bahkan mayoritas rumah tangga Rasulullah dan shahabat terjalin bukan karena cinta.” Aku mengangguk-angguk. Ada ya, cewek yang enggak memuja-muja cinta kayak Maysa? “Pernah ta’aruf sebelumnya?” tanyaku lagi. “Pernah.” “Kenapa enggak nikah sama yang pernah ta’aruf sama kamu?” Waktu itu aku menduga, pasti ketahuan belangnya. Setelah diam beberapa detik, Maysa menghela napas. Seolah itu kenangan buruk dalam hidupnya. “Dia meninggal karena kecelakaan. Satu pekan sebelum kami menikah.” Jawabannya membuatku bungkam. Prihatin. Tapi juga membuatku penasaran, seperti apa sosok lelaki itu. Ponselku berdering, memutus memori. Sekilas kulirik benda berukuran lima inchi yang terletak di atas dashboard. Terbaca nama Ratu di layarnya. “Han …,” lirihnya sebelum aku sempat bersuara. Terdengar dia sedang tidak baik-baik saja. “Iya, Ra? Kamu kenapa?” Ratu terisak. Sepertinya ada yang serius. Lampu hijau menyala, kulajukan mobil lalu segera menepi di tempat yang aman. “Ada apa, Ra?” “Han ….” “Kamu di mana?” Terdengar suara susutan ingus. “Di …... The post USAI BERCERAI – 2 appeared first on MALLPROPERTI.COM : AHLI JUAL PROPERTY MALANG RAYA.
http://dlvr.it/RWkNs6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar